Mengelola Sesampahan: Di Palar, di Indonesia Kaya Raya
Bapak Sukir, pegiat Bank Sampah Pandanaran, Paseban, Bayat, Klaten Imam Samroni “ Nggih, leres punika , (Ya, benar itu)” jawab Pak Sukir dengan intonasi yang tetap terjaga dan santun. “Di desa, dengan adanya kepemilikan pekarangan, warga tidak menganggap sampah sebagai masalah. Hal ini jelas berbeda dengan warga di kota, apalagi yang tinggal di perumahan. Tatakelola sampah merupakan hal baru bagi warga saat itu”. Siang itu (Jumat Pon, 7 Agustus 2015), di Dukuh Kabo, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, saya berkesempatan ngangsu kawruh dari Pak Sukir dan selanjutnya Mbak Estrini. Dari Pak Sukir dan Mbak Rini, pribadi yang mengambil peran perubah dan penjaga di tingkat basis, saya mengilas tentang tatakelola sampah sebagai ihwal proses belajar sosial warga di perdesaan. Dalam catatan saya, Bank Sampah Pandanaran adalah bank sampah pertama di Klaten.